Halaman

Kamis, 14 Agustus 2008

Flying Dutchman

Menurut cerita rakyat, Flying Dutchman adalah nama kapal laut berhantu yang tidak pernah menemukan jalan pulang dalam usaha mengarungi 7 samudra selamanya. Beberapa sumber terpercaya menyebutkan bahwa pada abad 17 seorang kapten Belanda bernama Bernard Fokke (versi lain menyebut kapten Ramhout van Dam atau Hendrik van der Decken) mengarungi lautan dari Holland ke pulau Jawa dengan kecepatan luar biasa.Ia dicurigai meminta bandtuan iblis untuk mencapai kecepatan tadi. Kapten ini bersumpah tidak akan mundur akibat badai besar ketika ia bersama krunya berlayar menuju Cape of God Hope. Sumber lain menyampaikan munculnya penyakit berbahaya di kalangan penumpang kapal sehingga tidak diijinkan untuk mendarat dimana pun. Sejak itu seluruh awaknya dikutuk untuk berlayar mengarungi lautan untuk selamanya.Banyak saksi yang telah melihat kapal hantu ini. Pada tahun 1939 kapal ini terlihat di Mulkzenberg.

Pada tahun 1941 seklompok orang di pantai Glencairn menyaksikan kapal berlayar yang tiba - tiba lenyap ketika akan menubruk batu karang. Penampakan The Flying Dutchman kembali terlihat oleh awak kapal laut militer M.H.S Jubilee di dekat Cape Town di bulan agustus 1942. Selama berabad - aba, legenda The Flying Dutchman menjadi sumber inspirasi para sastrawan dan novelis. Sejak tahun 1826 Edward Fitzball telah menulis novel The Pantom Ship (1837) yang diangkat dari pengalaman bertemu dengan kapal seram ini. Banyak pujangga terkenal seperti Washington Irving dan Sir Walter Scott juga tertarik mengangkat legenda ini. Istilah Flying Dutchman juga dipakai untuk julukan beberapa atlet sepakbola, terutama para pemain ternama asal Belanda. Ironisnya, bintang veteran negeri Orange, Dennis Bergkamp justru dikenal sebagai orang yang phobia atau takut untuk terbang, sehingga ia dijuluki The Non-Flying Dutchman.Menurut cerita rakyat, Flying Dutchman adalah nama kapal laut berhantu yang tidak pernah menemukan jalan pulang dalam usaha mengarungi 7 samudra selamanya. Beberapa sumber terpercaya menyebutkan bahwa pada abad 17 seorang kapten Belanda bernama Bernard Fokke (versi lain menyebut kapten Ramhout van Dam atau Hendrik van der Decken) mengarungi lautan dari Holland ke pulau Jawa dengan kecepatan luar biasa.Ia dicurigai meminta bandtuan iblis untuk mencapai kecepatan tadi. Kapten ini bersumpah tidak akan mundur akibat badai besar ketika ia bersama krunya berlayar menuju Cape of God Hope. Sumber lain menyampaikan munculnya penyakit berbahaya di kalangan penumpang kapal sehingga tidak diijinkan untuk mendarat dimana pun. Sejak itu seluruh awaknya dikutuk untuk berlayar mengarungi lautan untuk selamanya.Banyak saksi yang telah melihat kapal hantu ini. Pada tahun 1939 kapal ini terlihat di Mulkzenberg. Pada tahun 1941 seklompok orang di pantai Glencairn menyaksikan kapal berlayar yang tiba - tiba lenyap ketika akan menubruk batu karang. Penampakan The Flying Dutchman kembali terlihat oleh awak kapal laut militer M.H.S Jubilee di dekat Cape Town di bulan agustus 1942. Selama berabad - aba, legenda The Flying Dutchman menjadi sumber inspirasi para sastrawan dan novelis. Sejak tahun 1826 Edward Fitzball telah menulis novel The Pantom Ship (1837) yang diangkat dari pengalaman bertemu dengan kapal seram ini. Banyak pujangga terkenal seperti Washington Irving dan Sir Walter Scott juga tertarik mengangkat legenda ini. Istilah Flying Dutchman juga dipakai untuk julukan beberapa atlet sepakbola, terutama para pemain ternama asal Belanda. Ironisnya, bintang veteran negeri Orange, Dennis Bergkamp justru dikenal sebagai orang yang phobia atau takut untuk terbang, sehingga ia dijuluki The Non-Flying Dutchman.

Read More..

Kamis, 31 Juli 2008

HINA MATSURI

Setiap tanggal 3 Maret(tanggal 3 bulan 3 kalender matahari/lunar) di seluruh wilayah Jepang diadakan Hina Matsuri, festival boneka untuk anak perempuan atau juga dikenal dengan Momo no sekku, festival bunga Peach blossom.

Festival ini awalnya berasal dari budaya China, dan mulai dirayakan di Jepang pada masa Heian (794-1192).Pada hari itu keluarga yang memiliki anak perempuan berdoa ke kuil Shinto. Memohon kesuksesan, kebahagian hidup dan kesehatan untuk anak perempuan mereka. Bila anak perempuannya sudah beranjak dewasa, mereka pun memohon agar anak perempuan itu mendapat jodoh dalam waktu dekat.

Hinamatsuri pada masa lampau disebut Hinanagashi yang artinya boneka terapung. Dulu, para orang tua, anak perempuan bahkan kakek-nenek bhu-membahu membuat boneka dari kertas washi. Tepat di hari puncak perayaan, mereka memasukkan boneka itu ke dalam sebuah kapal kecil, menaruhnya di sungai dan mengalirkannya ke laut. Mereka percaya dengan begitu semua kejelekan, nasib buruk dan energi negatif juga terbawa oleh boneka itu ke laut. Tapi sepertinya hal ini sudah mulai jarang dilakukan.

Read More..