Rabu, 10 November 2010
My Big 5 Favorite Anime
BACK-ON

Back-On (バックオン, Bakkuon?) (Stylized sebagai BACK-ON) adalah sebuah rock Jepang lima pria / nu metal band dari Tokyo, Jepang. Mereka diakui untuk menciptakan tema pembukaan anime seperti lagu pembuka Gear Air, "Chain"; Murder Princess pembukaan tema "Hikari Sasuhou (fk Metal ver.)" Dan Eyeshield 21s "Blaze LINE". dll, walaupun mereka juga menulis tema berakhir untuk kedua acara anime dan TV. Ini termasuk "bunga" dan "A day Dreamingi ..." untuk Eyeshield 21, dan "Butterfly" untuk TV drama Swan Shinjuku larut malam, dan terakhir "Sands of Time" untuk drama robot mobile TV Keitai Sousakan 7.
single band ini "Flyaway" dan "Where Is The Future?" diciptakan sebagai theme song untuk game PSP Tales of the World: Radiant Mythology 2, yang dirilis secara eksklusif di Jepang pada tanggal 28 Januari 2009.
Single lainnya adalah ONE STEP! / Tommorow never knows yang rilis pada tanggal 27 Januari 2010.
BACK-ON membuat penampilan internasional pertama mereka di "Anime Matsuri" pada tanggal 28 April 2007 di Houston, Texas dan baru-baru ini diundang kembali untuk "Anime Matsuri" 2010. Sejak saat itu mereka juga telah muncul Vancouver "Anime Evolution" pada bulan Agustus 2007, dan "Anime USA" di Arlington Virginia pada bulan November 2007. Mereka juga hakim tamu untuk "Anime Idol 2007" di "Anime Evolution."
Band Members:
* Kenji03 - Vocal, MC, Guitar
* Teeda - MC
* Gori - Bass Guitar
* Shu - Lead Guitar
* Icchan - Drum
Kamis, 14 Agustus 2008
Flying Dutchman
Menurut cerita rakyat, Flying Dutchman adalah nama kapal laut berhantu yang tidak pernah menemukan jalan pulang dalam usaha mengarungi 7 samudra selamanya. Beberapa sumber terpercaya menyebutkan bahwa pada abad 17 seorang kapten Belanda bernama Bernard Fokke (versi lain menyebut kapten Ramhout van Dam atau Hendrik van der Decken) mengarungi lautan dari Holland ke pulau Jawa dengan kecepatan luar biasa.Ia dicurigai meminta bandtuan iblis untuk mencapai kecepatan tadi. Kapten ini bersumpah tidak akan mundur akibat badai besar ketika ia bersama krunya berlayar menuju Cape of God Hope. Sumber lain menyampaikan munculnya penyakit berbahaya di kalangan penumpang kapal sehingga tidak diijinkan untuk mendarat dimana pun. Sejak itu seluruh awaknya dikutuk untuk berlayar mengarungi lautan untuk selamanya.Banyak saksi yang telah melihat kapal hantu ini. Pada tahun 1939 kapal ini terlihat di Mulkzenberg.
Pada tahun 1941 seklompok orang di pantai Glencairn menyaksikan kapal berlayar yang tiba - tiba lenyap ketika akan menubruk batu karang. Penampakan The Flying Dutchman kembali terlihat oleh awak kapal laut militer M.H.S Jubilee di dekat Cape Town di bulan agustus 1942. Selama berabad - aba, legenda The Flying Dutchman menjadi sumber inspirasi para sastrawan dan novelis. Sejak tahun 1826 Edward Fitzball telah menulis novel The Pantom Ship (1837) yang diangkat dari pengalaman bertemu dengan kapal seram ini. Banyak pujangga terkenal seperti Washington Irving dan Sir Walter Scott juga tertarik mengangkat legenda ini. Istilah Flying Dutchman juga dipakai untuk julukan beberapa atlet sepakbola, terutama para pemain ternama asal Belanda. Ironisnya, bintang veteran negeri Orange, Dennis Bergkamp justru dikenal sebagai orang yang phobia atau takut untuk terbang, sehingga ia dijuluki The Non-Flying Dutchman.Menurut cerita rakyat, Flying Dutchman adalah nama kapal laut berhantu yang tidak pernah menemukan jalan pulang dalam usaha mengarungi 7 samudra selamanya. Beberapa sumber terpercaya menyebutkan bahwa pada abad 17 seorang kapten Belanda bernama Bernard Fokke (versi lain menyebut kapten Ramhout van Dam atau Hendrik van der Decken) mengarungi lautan dari Holland ke pulau Jawa dengan kecepatan luar biasa.Ia dicurigai meminta bandtuan iblis untuk mencapai kecepatan tadi. Kapten ini bersumpah tidak akan mundur akibat badai besar ketika ia bersama krunya berlayar menuju Cape of God Hope. Sumber lain menyampaikan munculnya penyakit berbahaya di kalangan penumpang kapal sehingga tidak diijinkan untuk mendarat dimana pun. Sejak itu seluruh awaknya dikutuk untuk berlayar mengarungi lautan untuk selamanya.Banyak saksi yang telah melihat kapal hantu ini. Pada tahun 1939 kapal ini terlihat di Mulkzenberg. Pada tahun 1941 seklompok orang di pantai Glencairn menyaksikan kapal berlayar yang tiba - tiba lenyap ketika akan menubruk batu karang. Penampakan The Flying Dutchman kembali terlihat oleh awak kapal laut militer M.H.S Jubilee di dekat Cape Town di bulan agustus 1942. Selama berabad - aba, legenda The Flying Dutchman menjadi sumber inspirasi para sastrawan dan novelis. Sejak tahun 1826 Edward Fitzball telah menulis novel The Pantom Ship (1837) yang diangkat dari pengalaman bertemu dengan kapal seram ini. Banyak pujangga terkenal seperti Washington Irving dan Sir Walter Scott juga tertarik mengangkat legenda ini. Istilah Flying Dutchman juga dipakai untuk julukan beberapa atlet sepakbola, terutama para pemain ternama asal Belanda. Ironisnya, bintang veteran negeri Orange, Dennis Bergkamp justru dikenal sebagai orang yang phobia atau takut untuk terbang, sehingga ia dijuluki The Non-Flying Dutchman.
Kamis, 31 Juli 2008
HINA MATSURI
Setiap tanggal 3 Maret(tanggal 3 bulan 3 kalender matahari/lunar) di seluruh wilayah Jepang diadakan Hina Matsuri, festival boneka untuk anak perempuan atau juga dikenal dengan Momo no sekku, festival bunga Peach blossom.
Festival ini awalnya berasal dari budaya China, dan mulai dirayakan di Jepang pada masa Heian (794-1192).Pada hari itu keluarga yang memiliki anak perempuan berdoa ke kuil Shinto. Memohon kesuksesan, kebahagian hidup dan kesehatan untuk anak perempuan mereka. Bila anak perempuannya sudah beranjak dewasa, mereka pun memohon agar anak perempuan itu mendapat jodoh dalam waktu dekat.
Hinamatsuri pada masa lampau disebut Hinanagashi yang artinya boneka terapung. Dulu, para orang tua, anak perempuan bahkan kakek-nenek bhu-membahu membuat boneka dari kertas washi. Tepat di hari puncak perayaan, mereka memasukkan boneka itu ke dalam sebuah kapal kecil, menaruhnya di sungai dan mengalirkannya ke laut. Mereka percaya dengan begitu semua kejelekan, nasib buruk dan energi negatif juga terbawa oleh boneka itu ke laut. Tapi sepertinya hal ini sudah mulai jarang dilakukan.
